Langsung ke konten utama

Experience at Gabugan Village

Pada tanggal 30 April saya pergi ke Desa Gabugan, di Sleman, Jogjakarta untuk memenuhi Praktik Kuliah Lapangan 2 bersama teman seangakatan. Desa ini biasa disebut DEWIGA (Desa Wisata Gabugan) yang di dalamnya ada banyak sekali sarana prasarana untuk Edukasi dan Rekreasi. Diantaranya ada cara belajar menanam sawah, memetik salak pondoh, panahan, camping, dsb. Desa ini memiliki beberapa potensi, salah satunya yang paling populer adalah salak pondoh dan salak gading. Profesi warga cenderung petani dan pertenak, mulai dari perternak burung puyuh, ayam, ikan gurame, ikan mujair, sampai ikan mas. Desan Gabugan ini letaknya tidak jauh dari Gunung Merapi, hanya berjarak 14 km. Saat Gunung Merapi meletuspun mereka juga sempat terkena abu vulkaniknya dan diungsikan ke daerah Bantul.
Teman Sekelas P. IPS C / 2016

Kehidupan warganya yang dominan petani dan perternak, setelah melihat potensi tersebut salah satu warga berinisiatif untuk membuat desanya maju. Jalannya adalah membuat desa ini menjadi desa wisata, dan terbentuklah desa wisata di tahun 2004. Disamping itu, warga desa ini sangat suka sekali berorganisasi jadi segala struktur desa wisata ini tertata rapi. Anak mudanya aktif dalam menjadi tour guide para pengunjung, dan warganya yang hanya seorang petani mendapat pemasukan tambahan dengan rumah mereka yang dijadikan Homestay. Dalam satu minggu bisa 2 kelompok yang menempati homestay, dan semua sudah dibuatkan catering di tiap rumah untuk makan pengujung. Homestay yang saya tempati ini rumahnya sangat khas dengan gaya jawa yang berbentuk runcing di tengah, suasana yang khas desa dipenuhi suara burung dan pekarangan rumah dengan kandang ayam serta pemandangan tumbuhan salak dan sawah.

Saya tinggal di homestay, bersama teman saya 2 orang. Rumah Bapak Sumbari yang saya tempati mempunya 3 seorang anak, beliau dan istrinya adalah petani salak pondoh dan gading, kedua anaknya juga aktif dalam organisasi anak muda sebagai tour guide. Beliau memang bukan warga asli gabugan tapi sudah lama menempati desa itu, setelah pindah dari Jakarta. Kehdiupanya setelah desa ini dijadikan desa wisata, membuatnya mampu menyekolahkan anaknya sampai jenjanh kuliah. Anak pertamanya biasa dipanggil Mas Galih adalah mahasiswa tingkat 2 program studi Seni Rupa,  jurusan DKV. Sungguh keren bukan? 😆 Ibu Sumbari juga baik sekali, ia membekali kami pulang dengan oleh oleh salak pondoh dan gading miliknya.


Bersama keluarga Bapak Sumbari.

Disana saya kebetulan kedapatan materi tentang Sejarah, karena kami Mahasiswa IPS kami mengkaji Desa Gabugan ini dalam Aspek IPS (Sejarah, Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, dan Geografi). Kami Bertemu dengan Bapak Suyato dan Bapak Miko yang mengerti mengenai sejarahnya Desa Gabugan ini. Awalnya pemberian nama desa karena desa ini ditemukan oleh seseorang 'ada desa tapi seperti kosong', seperti halnya dengan padi yang 'Gabug' jadilah dinamakan Desa Gabugan. Mulai dari tahun 2004 Desa ini menjadi DEWIGA, dan untuk menarik minat pengunjung tiap blok homestay diberi nama-nama kartun, seperti : doraemon, batman, angrybirds, dll. Warganya juga sangat ramah ketika kami lewat. Disana juga ada Rumah yang sudah berumur 2 Abad namun kami tidak dapat mengetahui lebih detailnya karena orang yang bersangkutan atau masih mengetahui sejarahnya tidak ada. Menariknya disana saya baru mengetahui bahwa salak pondoh itu tidak hanya ditanam bijinya saja, melainkan ditambah dengan cara mencangkok.

Desa Gabugan ini cenderung masuk kedalam Desa Modern, berbanding terbalik dengan yang saya dan teman teman perkirakan. Saat PKL 1, kita pernah ke Kampung Naga, Garut, Tasikmalaya yang sangat tradisional. Setelah 2 hari tinggal di Desa Gabugan, tak lupa sebelum pulang kami mampir ke Candi Prambanan dan Jalan-jalan di Malioboro. Demikianlah cerita pengalaman saya, berharap bisa datang kembali ke Desa Gabungan. bonuss foto di Prambanan hehee...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eksistensi Lenong Betawi di Era Modern

Lenong merupakan teater rakyat Tradisional Betawi berisi pertunjukan silat, bodoran atau lawak dan menggunakan musik Gambang Kromong dalam setiap pertunjukan. Pertunjukan Lenong mempunyai dua jenis cerita, pertama cerita yang mengisahkan seribu satu malam dalam kerajaan disebut dengan Lenong Dines. Sedangkan Lenong yang mengisahkan cerita tentang para jawoan Betawi disebut dengan Lenong Preman. Dalam pertunjukannya para pemain laki-laki disebut dengan Panjak sedangkan para pemain wanita disebut Ronggeng. Awalnya Lenong tumbuh secara tradisional dengan menampilkan cerita jagoan Betawi seperti si Pitung, si Jampang dan Nyai Dasima. Pertunjukannya dilakukan di panggung sederhana, dengan fungsi untuk memeriahkan acara keluarga. Namun seiring perkembangan zaman dan banyaknya urbanisasi membuat tanah lapang mulai berkurang. Hal tersebut membuat Lenong tampil di gedung pertunjukan seperti Taman Ismail Marzuki. Selain itu sikap Gubernur Ali Sadikin yang menggalakan Titik Balik Kebetawian mem...

Peristiwa Semanggi 1998 dalam Pandangan KontraS

Sebelumnya kita membahas apa itu KontraS? terlebih dahulu. Kontras lahir pada 20 Maret 1998 merupakan gugus tugas yang dibentuk oleh sejumlah organisasi   civil society   dan tokoh masyarakat. Dalam beberapa pertemuan dengan masyarakat korban, tercetuslah ide untuk membentuk sebuah lembaga yang khusus menangani kasus-kasus orang hilang sebagai respon praktik kekerasan yang terus terjadi dan menelan banyak korban. Pada saat itu seorang ibu yang bernama Ibu Tuti Koto (Ibunda dari korban penghilangan paksa, Yani Afri) mengusulkan dibentuknya badan khusus yang merespon bentuk-bentuk Pelanggaran HAM, khususnya penculikan dan penghilangan paksa di Indonesia. Disepakatilah sebuah nama komisi untuk orang hilang dan korban tindak kekerasan dengan nama KontraS. Dalam perjalanannya KontraS tidak hanya menangani masalah penculikan dan penghilangan orang secara paksa tapi juga diminta oleh masyarakat korban untuk menangani berbagai bentuk kekerasan yang terjadi baik secara vertikal di Aceh...

Wisata Belajar di Museum Satria Mandala

Museum Satria Mandala ini dulunya dikenal sebagai Wisma Yoso, yaitu tempat kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno dan tempat Bung Karno disemayamkan sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Di Museum ini tersimpan berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan TNI dan tahun 1945 sampai sekarang, seperti berbagai senjata berat maupun ringan, peluru, atribut ketentaraan, panji-panji, dan lambang-lambang di lingkungan TNI, kendaraan perang seperti tank dan panser, dan juga pesawat terbang. Pada tanggal 15 November 1971 kediaman Ibu Ratna Sari Dewi Soekarno dibuka dan direnovasi menjadi Museum, dengan luas tanah kurang lebih sekitar 5,6 hektar. Setahun kemudian pada 5 Oktober 1972, Museum ini diresmikan oleh Bapak Soeharto. Arti dari Satria Mandala itu sendiri adalah tempat berkumpulnya para ksatria atau pahlawan, adapun yang terdapat dalam Museum ini tidak semuanya asli ada pula replika. Ruangan yang pertama yaitu panji-panji sebagai jantung dari Museum, dahulunya sebagai tempat...