Sejarah Terbentuknya Desa Gabugan
A. Penamaan Desa Gabugan
Desa
Wisata Gabugan (DEWIGA) adalah Desa Wisata dengan konsep Pedesaan yang terletak
di Yogyakarta tepatnya
kecamatan Turi, kabupaten Sleman
yang bernuansakan kehidupan
masyarakat daerah yang masih kental dengan tradisi adat Jawa. Dewiga memberikan
suasana pedesaan yang asri, nyaman, dan sejuk. Dewiga terletak di antara objek wisata
Borobudur dan Prambanan, dengan hanya berjarak 17 km dari pusat kota Yogyakarta ke arah utara yaitu
Gunung Merapi atau arah Agro Wisata Turi dengan jarak tempuh sektar 40 menit
dari arah pusat kota. Akses menuju Desa
Wisata Gabugan ini tergolong bagus, sepanjang 17 km itu dalam 40 menit di
perjalanan tidak akan terasa karena dengan pemandangan yang bagus khas
Yogyakarta sepanjang rute.[1]
Desa yang dinamakan Gabugan ini mempunyai sejarah yang
berawal dari tahun 1700-an. Menurut pak Suyanto selaku narasumber kami yang sudah lama
menetap di Desa Gabugan, Nyi Ageng Reksoyudo merupakan tokoh yang paling
berpengaruh terhadap adanya Desa Gabugan ini. Nyi Ageng Reksoyudo merupakan
keturunan Panemban Senopati bumi mataram. Pada kala itu Nyi Ageng Reksoyudo
kehilangan suaminya dan amat sangat bersedih, kemudian Nyi Ageng Reksoyudo
memutuskan untuk mencari tempat tinggal bersama kedua anaknya dengan berjalan
ke arah timur laut, pada saat itu
terjadi zaman pagebluk atau zaman penyakit menular yang menyebabkan banyak
orang meninggal dunia. Salah satu peninggalan zaman pagebluk ini adalah desa
kembang harum yang ditandai dengan banyaknya kuburan di depan perkarangan rumah warga.
Berbeda dengan Desa Kembang Harum, Desa Gabugan
merupakan desa yang mengkarantina warga yang terkena penyakit di tempat yang
jauh. Sehingga Nyi Ageng Reksoyudo memutuskan
untuk berdiam diri di Desa Gabugan. Saat Nyi ageng Reksoyudo menemui Desa
Gabugan, desa tersebut
terlihat amat kosong tetapi pola daerah yang ditemui Nyi Ageng Reksoyudo sudah
berbentuk seperti desa sehingga dinamakan gabug
yang artinya kosong atau tidak ada isinya, dari situ Nyi Ageng Reksoyudo menamakan
desa yang ditemuinya dengan gabugan atau yang dikenal sebagai Desa Gabugan.
B. Latar Belakang Masyarakat
Masyarakat Desa Gabugan merupakan
keturunan ke 8 - 9 dari Nyi Ageng Reksoyudo. Sedangkan silsilah Nyi Ageng
Reksoyudo adalah bermula dari Penembahan Senopati pemilik bumi mataram yang
mempunyai puteri yang bernama Retno Pembayun. Retno Pembayun memiliki putera
laki-laki yang bernama Bandoro Raden Mas (BRM) Ati Aryo Pulang Jiwo. BRM Ati
Aryo Pulang jiwo mempunyai anak bernama BRM Pangeran Kusumo Yudo, BRM Pangeran
Kusumo Yudo punya anak yang namanya Nyi
Ageng Reksho.
Dapat dikatakan bahwa Nyi Ageng Rekso
Yudo merupakan keturunan keempat dari panembahan senopati atau Danang
Sutawijaya yang merupakan pendiri Kerajaan Mataram. Sementara masyarakat Desa
Gabugan merupakan keturunan ke 8 - 9 dari Nyi Ageng Reksoudo, dan masih
keturunan dari Panembahan Senopati dan dapat dikatakan juga masyarakat Desa Gabugan merupakan orang yang
mempunyai darah biru, walaupun tidak semua masyarakat Desa Gabugan merupakan
penetap asli, namun sebagian besar masyarakat Desa Gabugan didominasi oleh
penetap asli, salah satunya Dukuh dari Desa Gabugan itu sendiri.
Sejarah
Perubahan Desa Gabugan Menjadi Desa Wisata
Desa Wisata adalah komunitas atau masyarakat yang terdiri dari
para penduduk suatu wilayah terbatas yang bisa saling berinteraksi secara
langsung dibawah sebuah pengelolaan dan memiliki kepedulian serta kesadaran untuk
berperan bersama sesuai ketrampilan dan kemampuan masing-masing memberdayakan
potensi secara kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta
terwujudnya Sapta Pesona sehingga tercapai peningkatan pembangunan daerah
melalui kepariwisataan dan memanfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat di
wilayah itu.
Desa Wisata merupakan kelompok swadaya
dan swakarsa masyarakat yang dalam aktivitas sosialnya berupaya untuk
meningkatkan pemahaman kepariwisataan, mewadahi peran dan partisipasi
masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan di wilayahnya, meningkatkan nilai
kepariwisataan serta memberdayakannya bagi kesejahteraan masyarakat, keikut
sertaan dalam mensukseskan pembangunan kepariwisataan.
Desa Wisata dibentuk untuk memberdayakan masyarakat agar dapat
berperan sebagai pelaku langsung dalam upaya meningkatkan kesiapan dan
kepedulian dalam menyikapi potensi pariwisata atau lokasi daya tarik wisata di
wilayah mereka agar dapat berperan sebagai tuan rumah yang baik bagi para
wisatawan yang berkunjung, serta memiliki kesadaran akan peluang dan kesiapan
menangkap manfaat yang dapat dikembangkan dari kegiatan pariwisata untuk
meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat .
Tujuan dari pembentukan Desa Wisata
untuk meningkatkan posisi dan peran masyarakat sebagai subjek atau pelaku
penting dalam pembangunan kepariwisataan, serta dapat bersinergi dan bermitra
dengan pemangku kepentingan terkait dalam meningkatkan kualitas perkembangan
kepariwisataan di daerah, membangun dan menumbuhkan sikap dan dukungan positif
masyarakat sebagai tuan rumah melalui perwujudan nilai-nilai Sapta Pesona bagi
tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di daerah dan manfaatnya bagi
pembangunan daerah maupun kesejahteraan masyarakat dan memperkenalkan,
melestarikan dan memanfaatkan potensi daya tarik wisata yang ada di
masing-masing daerah.
Fungsi Desa Wisata merupakan sebagai
wadah langsung bagi masyarakat akan kesadaran adanya potensi Wisata dan
terciptanya Sapta Pesona di lingkungan wilayah di destinasi wisata dan sebagai
unsur kemitran baik bagi Pemerintah propinsi maupun pemerintah daerah
(kabupaten/kota) dalam upaya perwujudan dan pengembangan kepariwisataan di
daerah.[2]
Desa Wisata Gabugan adalah sebuah desa
wisata yang terletak di Dusun Gabugan, Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta yang
merupakan sebuah desa yang terkenal dengan perkebunan salak pondohnya. Sebelum
menjadi Desa Wisata, Desa Gabugan mendapatkan subsidi dari pemerintah untuk
proyek perumahan, tetapi tidak semua masyarakat Desa Gabugan mendapatkan
subsidi untuk proyek ini. Tahun 1976 Desa Gabugan mulai melebarkan jalan dengan
gotong royong karena pelebaran jalan program dari pemerintah, lalu pegawai
pemerintah seperti ABRI membantu masyarakat Desa Gabugan. Yang mencetuskan
untuk didirikannya Desa Wisata adalah Pak Iskandar selaku warga Desa Gabugan.
Pak Iskandar mensosialisasikan kepada masyarakat terkait tentang mengubah Desa
Gabugan menjadi Desa Wisata. Setelah disosialisaikan, masyarakat setuju untuk
mengubah Desa Gabugan menjadi Desa Wisata. Pengelolaan pada masa awal terbentuknya
Desa Gabugan masih dibawah organisasi kepemudaan yaitu Karang Taruna. Seiring
berjalannya waktu terbentuklah pengelola Desa Wisata Gabugan.
Desa Wisata Gabugan cocok menjadi lahan
perkebunan salak terutama salak gading dan salak pondoh. Salak gading juga
merupakan pendukung awal terbentuknya Desa Wisata Gabugan. Desa Wisata Gabugan
yang berada pada ketinggian ±450-600 diatas permukaan laut menjadikan phon
salak tumbuh subur didaerah tersebut. Perkebunan salak pondoh ini menjadi daya
tarik sekaligus potensi wisata yang dimiliki oleh Desa Wisata Gabugan karena
umur pohon salak pondoh tidak akan mati jika tidak terjangkit penyakit. Selain
dari perkebunan salak pondoh, sebagian wilayah desa ini juga dimanfaatkan untuk
areal perikanan. Dengan nuansa pedesaaan yang asri dan hawa yang sejuk maka
dusun ini sangat menarik di kunjungi untuk belajar tentang perkebunan salak
ataupun budidaya ikan.
Di samping
potensi wisata yang berupa perkebunan salak pondoh dan perikanan, desa wisata
Gabugan memiliki berbagai jenis kesenian dan budaya yang masih dilestarikan
oleh masyarakat sekitar. Kesenian dan budaya tersebut diantaranya adalah
jathilan, karawitan, wayang kulit serta ketoprak yang dapat dinikmati oleh para
wisatawan pada waktu-waktu tertentu. Makanan khas dari desa ini juga cukup
menarik untuk dijadikan oleh-oleh para wisatawan. Makanan khas tersebut
diantaranya terdapat Salak, dodol salak, megono, dan jenang salak.
Bagi para wisatawan yang ingin
menikmati keindahan dari Desa Wisata Gabungan ini terdapat paket wisata yang
disediakan yang meliputi trekking (susur sungai), wisata kebun, belajar
bertani, memancing serta belajar kesenian tradisonal. Apabila wisatawan ingin
menginap, juga tersedia homestay dengan kapasitas 130 orang dengan harga yang
relatif terjangkau. Selain itu terdapat juga tempat pertemuan dengan kapasitas
sekitar 100 orang.
Desa Wisata Gabugan memiliki akses
yang cukup mudah dan didukung oleh areal parkir yang luas yang dapat menampung
kendaraan mobil 50 buah, motor 200 buah, bus 4 buah. Terdapat juga pusat
jajanan untuk para wisatawan membeli oleh-oleh.[3]
Salah satu unggulan Desa Wisata
Gabugan yaitu perkebunan salak namun jangan salah, salak yang ada disini
berbeda dengan salak yang ada di desa wisata lainnya. Disini kami mempunyai
varietas asli Desa Wisata Gabugan yang kami budidayakan yaitu Salak Gading
merupakan salak yang warnanya kuning keemasan yang kemudian kami jadikan
sebagai sarana belajar bagi para wisatawan untuk lebih mengenal berbagai jenis
salak dan cara budi dayanya.[4]
Pengunjung yang datang ke desa ini akan sangat menikmanti suasana yang
ada selain bisa menikmati suasana alamnya yang indah dan nyaman, udara disini
juga sangat sejuk dan pemandangan masih terlihat asri, selain bisa merasakan
dan mengenal jenis salak dan cara budi dayanya di dalam Desa Gabugan kita juga
dapat bisa beraktivitas yaitu pertanian, Kegiatan ini mengajak wisatawan untuk
langsung menikmati alam dan mempelajari cara bercocok tanam mulai dari
pengolahan lahan sampai pemetikan hasil pertanian. dengan berbagai jenis
tanaman yang di tanam oleh petani desa wisata gabugan, pengunjung yang
berkunjung disini akan di berikan keleluasaan untuk memilih atau ingin
mengetahui mana tanaman yang pas untuk bercocok tanam.
Setelah dari tadi
tanaman sekarang kita menuju salah satu aktivitas unggulan di Desa Wisata
Gabugan. Peternakan disini sudah sangat maju sehingga banyak yang mengambil
percontohan di Desa Wisata Gabugan ini. Sangat cocok menjadi aktivitas juga
menjadi salah satu tambahan wawasan bagaimana mengenalkan jiwa wirausaha dengan
beternak unggas dan puyuh. Mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pemasaran dan
pemeliharaan limbah ternak salah satunya adalah peternakan puyuh yang dimiliki
oleh Bapak Suwarno yang sudah mempunyai 1500 Burung Puyuh.
Lalu Desa Gabugan
sebagai desa Agro wisata tidak hanya menyediakan pertanian, peternakan tetapi
ada juga perikanan Desa wisata gabugan dengan
kekayaan alam nya sayang jika melewatkan Kegiatan perikanan, kegiatan ini
sangat pas bagi wisawan yang jenuh dengan rutinitas kegiatan sehari-hari.
Wisatawan akan memancing, menangkap ikan,dan dapat menikmati hasil tangkapan
ikan. di desa wisata gabugan ini terdapat beberapa tambak yang dapat digunakan
untuk kegiatan tangkap ikan ini.
Selain itu, ada juga aktivitas para warga yang bisa di ajarkan
kepada para tamu yaitu keterampilan tangan berbagai keterampilan tangan seperti
membatik dan pengolahan barang bekas. Pengunjung dapat berinteraksi langsung
untuk mempelajari berbagai kegiatan tersebut. Ada juga Budaya dan Tradisi dari
Masyarakat Gabugan masih sangat menjunjung tinggi adat tradisi para leluhurnya
dengan berbagai kegiatan yang masih tetap dilestarikan sehingga para tamu yang
berkunjung ke Desa Gabugan bisa belajar Budaya yang baru dan mengenal
budaya-budaya yang ada antara lain: Merti bumi, Kenduri (hari-hari besar),
Nyadran (bulan ruwah), Wiwit (memulai panen), Tahlil.
Desa gabugan
menjadi Desa Agro Wisata karena mempunyai modal yaitu seperti yang sudah
dijelaskan diatas seperti pertanian, perikanan. Perkebunana salak, kesenian,
keterampilan tangan, budaya dan tradisi yang bisa dipelajari.
Kondisi
Desa Gabugan Setelah Menjadi Desa Wisata
Awal
mula desa Gabugan menjadi desa wisata dimulai dari usulan Bapak Iskandar selaku
warga sekitar. Selaku ketua kelompok tani Bapak Iskandar melihat adanya potensi
di desa Gabugan, terdapat perkebunan salak yang telah ditekuni warga sejak
dahulu yang mampu menarik wisatawan sehingga masyarakat desa Gabugan
termotivasi untuk menjadikan desa Gabugan menjadi desa wisata.
Pada
tahun 2002/2003 Dinas Pariwisata mengundang perwakilan dari masyarakat desa
Gabugan untuk mengikuti pelatihan pemanduan pariwisata yang diwakili oleh Pak
Goro selaku masyarakat Gabugan. Sehingga dengan adanya palatihan tersebut Pak
Goro dapat membina masyarakat untuk menjadikan desa wisata.
Seiring
berjalannnya waktu, pada tahun 2004 datang pengunjung sebanyak satu bis.
Disitulah mulai munculnya kebingungan dari masyarakat dan pengunjung. Setelah
itu masyarakat berunding
untuk menyediakan penginapan untuk para pengunjung tersebut. Akhirnya masyarakat memutuskan kesediaan
warganya untuk menampung pengunjung dengan kondisi seadanya. Dari situlah masyarakat termotivssi untuk
mengembangkan homestay dengan cara menyediakan satu kamar kosong setiap rumah
warga dan pembenahan MCK yang dilengkapi dengan pintu.
Orang
datang ke desa wisata tertarik untuk membeli oleh - oleh salak pondoh dan salak
gading. Di desa Gabugan juga menyediakan kegiatan seperti menanam padi,
memandikan kerbau, berternak unggas
dan puyuh, memancing dan menangkap ikan, membatik, mengelola barang bekas dan juga
tracking lintas desa. Pengunjung di desa Gabugan akan di ajak untuk sedikit
berolahraga sekalian menikmati suasana
pedesaan dengan di pandu oleh penduduk lokal. Mata Pencaharian warga desa
gabugan tidak hanya berkebun salak, tetapi juga ada yang bertani, bekerja
sebagai buruh bahkan guru.
Di bidang Kesenian, terdapat kegiatan seperti
karawitan, Jathilan, Pewayangan, dan Dolanan Anak. Di daerah Jawa Tengah dan
Yogyakarta, sudah sering terdengar kata rawit yang artinya halus, indah-indah. Begitu
pula sudah terdengar kata ngrawit yang artinya suatu karya seni
yang memiliki sifat-sifat yang halus, rumit, dan indah. Dari dua hal tersebut
dapat diartikan bahwa seni karawitan berhubungan dengan sesuatu yang halus, dan
rumit. Kehalusan dan kerumitan dalam seni karawitan tampak nyata dalam sajian
gending maupun asesoris lainnya. Suhastjarja mendefinisikan seni karawitan
adalah musik Indonesia yang berlaras non diatonis (dalam laras slendro dan
pelog) yang garapan-garapannya sudah menggunakan sistim notasi, warna suara,
ritme, memiliki fungsi, sifat pathet,
dan aturan garap dalam bentuk instrumentalia, vokalis dan campuran, enak
didengar untuk dirinya maupun orang lain.[5] Martopangrawit berpendapat, seni
karawitan adalah sebagai seni suara vokal dan instrumen yang menggunakan
nada-nada yang berlaras slendro dan pelog.[6] Ki
Sindusawarna berpendapat, bahwa dari segi bahasa, karawitan berasal dari kata rawita, diberi awalan ka, dan akhiran an. Rawita artinya mengandung rawit, yang berarti halus, indah,
rumit.[7]
Jadi karawitan berarti kumpulan dari segala yang mengandung kehalusan dan
keindahan. Soeroso
mendefinisikan karawitan sebagai ungkapan jiwa manusia yang dilahirkan melalui
nada-nada yang berlaras slendro dan pelog, diatur berirama, berbentuk, selaras,
enak didengar dan enak dipandang, baik dalam vokal, instrumental, maupun garap
campuran.
Sedangkan Pertunjukan Jathilan
merupakan pertunjukan rakyat yang mengambarkan kelompok orang pria atau wanita
sedang naik kuda dengan membawa senjata yang dipergunakan untuk latihan atau
gladi perang para prajurit. Kuda yang dinaiki adalah kuda tiruan yang terbuat
dari bambu, disebut jaran kepang atau kuda lumping. Jumlah penari Jathilan
seluruhnya bisa mencapai 30-an orang, meliputi tokoh raja, prajurit, raksasa,
Hanoman, penthul, dan barongan. Khusus penari utama yang membawa kuda lumping
sekitar 10 orang atau 5 pasangan.[8]
Bentuk pertunjukan Jathilan diekspresikan melalui gerak tari disertai dengan
properti kuda kepang dengan diiringi oleh musik gamelan sederhana seperti
bendhe, gong, dan kendhang. Jenis kesenian ini telah disebut-sebut oleh sarjana
Belanda pecinta kebudayan Jawa yang berhasil mendeskripsikan seni pertunjukan
rakyat Jawa tahun 1938, yaitu Th. Pigeaud bentuk-bentuk seni pertunjukan rakyat
yang sangat lengkap, antara lain yang cukup banyak dibahas adalah seni kuda
lumping. Jenis seni kudalumping banyak sekali banyak sekali dijumpai di daerah
Jawa Tengah dan DIY. Selain Jathilan terdapat nama-nama lain seperti Incling di
Kulonprogo, Ogleg di Bantul, Reog di Blora, Ebeg di Kebumen, Jaranann
Pitikwalik di Magelang, Jelantur di Boyolali, dan sebagainya. Semua jenis
kesenian kudalumping ini pada klimaks pertunjukannya terjadi in trance (ndadi, kesurupan). Pada
peristiwa ini, para penari kemasukan roh, sehingga gerak tarinya menglami
kekuatan yang luar biasa, sampai pada akhirnya penari tidak sadarkan diri, dan
akhirnya terhuyung-huyung jatuh ke tanah dalam keadaan pingsan.[9]
Pewayangan adalah wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber ilham dalam
menggambar wujud tokoh dan cerita sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si
penggambar karena sumber aslinya telah hilang di awalnya. Wayang adalah sebuah
wiracarita yang pada
intinya mengisahkan kepahlawanan para tokoh yang berwatak baik menghadapi dan menumpas tokoh
yang berwatak jahat.[10] Selainitu, Wayang
adalah sebuah mahakarya,
salah satu karya agung dunia karena karya seni wayang mengandung berbagai nilai, mulai dari falsafah
hidup, etika, spiritualitas,
musik (gending-gending gamelan), hingga estetika bentuk seni rupa yang amat kompleks.[11] Dalam seni
pewayangan ada banyak sekali kisah yang disajikan. Para penikmat seni
pertunjukan wayang pasti tidak asing dengan kisah-kisah yang diambil dari karya
sartra kuno, mulai dari Ramayanan sampai Mahabarata. Bukan hanya itu, setiap
pagelaran wayang pasti juga ada pesan yang hendak disampaikan oleh seorang
dalang yaitu pelaku
utama pertunjukan.
Kemudian Dolanan berasal dari
kata “dolan” yang artinya bermain-main.[12]
Dalam hal ini, kata dolan yang dimaksudkan adalah dolan yang artinya main. Yang
mendapat akhiran, sehingga menjadi dolanan. Kata dolanan sebagai bentuk kata
kerja yaitu “bermain” (to play),
sebagai kata benda yaitu “permainan” (play
game) dan atau “mainan” (toy).[13]
Menurut Lazarus dalam disertasi yang ditulis oleh Parwatri Wahjono permainan
merupakan kegitan selingan yang memang diperlukan manusia untuk melakukan
variasi kegiatan sehari-hari.[14]
Menurut Poerwadarminta (1939: 73) dolan ialah [15]:
1. Bermain
2. Sarana
yang digunakan untuk bersenang-senang bagi anak-anak, dan
3. Permainan
Sehingga
hal ini akan menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke desa Gabugan.
Pengelolaan Desa Gabugan sebagai desa wisata dikelola oleh unit karang taruna.
Dan sekarang dibentuk lembaga tersendiri untuk mengelola desa wisata.
Desa Gabugan sebagai desa wisata
berjalan dengan lancar bahkan semakin membaik dengan pelatihan-pelatihan yang
dilakukan secara berkala, seperti, pelatihan menyajikan makanan dengan benar,
pelatihan pengelolaan sarana wisata, dll. Tetapi pada tahun 2006 terjadi gempa
di Bantul, Gempa yang berskala 6,3 richter ini dibilang cukup besar karena
banyak mengakibatkan rumah dan gedung roboh, seperti Mall Ambarukmo Plaza yang
baru saja dibuka mengalami kerusakan parah, tidak hanya rumah dan gedung bahkan
Candi Prambanan dan Candi Borobudor juga mengalami kerusakan parah. Selanjutnya
rusaknya instalasi listrik dan komunikasi, serta mata air juga tercemar. Hal
ini yang berdampak pada Desa Gabugan ini, padahal daya tarik pengunjung waktu
itu adalah perkebunan dan pemandangan alam yang disuguhkan sehingga Desa Wisata
Gabugan harus vakum hingga 2008. Selama vakum memang pendapatan desa berkurang
akibat menurunnya pengunjung. Tetapi masyarakat desa Gabugan tetap berusaha
membangun kembali Desa Wisata Gabugan dan memnafaatkan apa yang masih bisa
dimanfaatkan.
Pada tahun 2008 mulai ada
peningkatan jumlah pengunjung, salah satunya dari tour travel Wiyata yang
membawa rombongan sebanyak enam bis. Keadaannya karena masih proses bangkit
dari gempa bantul 2006 Desa Gabugan kewalahan untuk masalah tempat tinggal.
Akhirnya masyarakat memutuskan untuk bekerja sama dengan dusun-dusun tetangga
sehingga terdapat lima puluh rumah yang siap di tempati oleh rombongan wiyata.
Waktu berlalu Desa Wisata Gabugan semakin terkenal di kalangan mahasiswa untuk
kegiatan Kuliah Lapangan ataupun KKN. Sehingga dapat dikatakan Desa Wisata
Gabugan mempunyai pengunjung tetap di setiap tahunnya, kampus saya yaitu UNJ.
setiap tahun tidak jarang ada beberapa prodi yang datang ke Desa Gabugan untuk
Kuliah Lapangan. Tidak hanya kampus saya tentunya, bahkan sekolah-sekolah
menengah atas di Jakarta juga ada yang berkunjung di Desa Wisata Gabugan.
Pada
tahun 2010 kembali terjadi bencana Alam yang menimpa Desa Wisata Gabugan, yaitu
pada tanggal 5 November 2010. Pada Rabu tanggal 4 November petugas gabungan
sudah mengumumkan untuk mengungsi pada hari Jumat pagi tetapi na’as erupsi
terjadi lebih awal. sekitar pukul 00.00 WIB, terdengar gemuruh hebat dari
puncak Merapi. Sejurus berikutnya, gempa akibat erupsi mengguncang wilayah
sekitar gunung tersebut. Tak lebih dari lima menit setelah erupsi dan gempa,
sirine tanda bahaya berbunyi bersahut-sahutan di antero Kecamatan Cangkringan
yang berada hanya sekitar 15 kilometer dari pusat erupsi. Warga berlomba keluar
rumah mengevakuasi diri. Tiba-tiba lampu penerangan padam. Kepanikan kian
menggila. Hal ini tentu juga dialami
oleh warga desa Gabugan. Salah satunya yaitu Bapak Suyanto. Sebelum erupsi
terjadi parah, anak bungsunya yang watu itu yang sebenarnya sedang sakit dan
cenderung pendiam, mendadak memiliki firasat dan terus memaksa Pak
Suyanto untuk pergi, akhirnya
Pak Suayanto menuruti dan pasrah meninggalkan harta bendanya. Pak Suyanto dan
keluarga pergi menggunakan kendaraan roda dua. Anehnya waktu itu terjadi
keajaiban, anak Pak Suyanto yang sakit dan cenderung pendiam mendadak bisa
menaiki kendaraan roda dua hingga membuat Pak Suyanto sempat takjub. Ketika
sampai di jalan Pak Suyanto melihat lalu lalang orang yang kebingungan dan
mencari tempat evakuasi terdekat. Beruntung Pak Suyanto memiliki kerabat di
Bantul dan memutuskan untuk tinggal di rumah saudaranya bersama keluarganya
menunggu keadaan desa gabugan aman serta kondusif. Setelah beberapa hari
kemudian warga yang mengungsi kembali ke desanya untuk melihat situasi. Yang
terjadi di desa gabugan banyak tanaman yang mati tertutupi oleh abu tetapi
masih ada sebagian tanaman salak yang masih bisa dikembangkan kembali. Akhirnya
warga desa gabugan kembali bersama-sama membangun desa ini dengan bergotong
royong memnfaatkan apa yang masih bisa dimanfaatkan karena masih ada beberapa
tanaman yang masih bisa dikembangkan sehingga menjadi bibit bagi calon-calon
tanaman berikut. Hingga sekarang terdapat kemajuan dari desa Gabugan seperti
tersedianya homestay yang memadai
untuk para tamu serta sajian untuk para tamu. Banyak tanaman yang sudah tumbuh
subur serta aktivitas lainnya yang sudah berjalan dengan normal dan sangat
baik.
Komentar
Posting Komentar