Langsung ke konten utama

Sejarah Desa Gabugan


Sejarah Terbentuknya Desa Gabugan

A.  Penamaan Desa Gabugan
Desa Wisata Gabugan (DEWIGA) adalah Desa Wisata dengan konsep Pedesaan yang terletak di Yogyakarta tepatnya kecamatan Turi, kabupaten Sleman yang bernuansakan kehidupan masyarakat daerah yang masih kental dengan tradisi adat Jawa. Dewiga memberikan suasana pedesaan yang asri, nyaman, dan sejuk. Dewiga terletak di antara objek wisata Borobudur dan Prambanan, dengan hanya berjarak 17 km dari pusat kota Yogyakarta ke arah utara yaitu Gunung Merapi atau arah Agro Wisata Turi dengan jarak tempuh sektar 40 menit dari arah pusat kota. Akses menuju Desa Wisata Gabugan ini tergolong bagus, sepanjang 17 km itu dalam 40 menit di perjalanan tidak akan terasa karena dengan pemandangan yang bagus khas Yogyakarta sepanjang rute.[1]
Desa yang dinamakan Gabugan ini mempunyai sejarah yang berawal dari tahun 1700-an. Menurut pak Suyanto selaku narasumber kami yang sudah lama menetap di Desa Gabugan, Nyi Ageng Reksoyudo merupakan tokoh yang paling berpengaruh terhadap adanya Desa Gabugan ini. Nyi Ageng Reksoyudo merupakan keturunan Panemban Senopati bumi mataram. Pada kala itu Nyi Ageng Reksoyudo kehilangan suaminya dan amat sangat bersedih, kemudian Nyi Ageng Reksoyudo memutuskan untuk mencari tempat tinggal bersama kedua anaknya dengan berjalan ke arah timur laut,  pada saat itu terjadi zaman pagebluk atau zaman penyakit menular yang menyebabkan banyak orang meninggal dunia. Salah satu peninggalan zaman pagebluk ini adalah desa kembang harum yang ditandai dengan banyaknya kuburan di depan perkarangan rumah warga.
Berbeda dengan Desa Kembang Harum, Desa Gabugan merupakan desa yang mengkarantina warga yang terkena penyakit di tempat yang jauh. Sehingga Nyi Ageng Reksoyudo memutuskan untuk berdiam diri di Desa Gabugan. Saat Nyi ageng Reksoyudo menemui Desa Gabugan, desa tersebut terlihat amat kosong tetapi pola daerah yang ditemui Nyi Ageng Reksoyudo sudah berbentuk seperti desa sehingga dinamakan gabug yang artinya kosong atau tidak ada isinya, dari situ Nyi Ageng Reksoyudo menamakan desa yang ditemuinya dengan gabugan atau yang dikenal sebagai Desa Gabugan.
B. Latar Belakang Masyarakat
Masyarakat  Desa Gabugan merupakan keturunan ke 8 - 9 dari Nyi Ageng Reksoyudo. Sedangkan silsilah Nyi Ageng Reksoyudo adalah bermula dari Penembahan Senopati pemilik bumi mataram yang mempunyai puteri yang bernama Retno Pembayun. Retno Pembayun memiliki putera laki-laki yang bernama Bandoro Raden Mas (BRM) Ati Aryo Pulang Jiwo. BRM Ati Aryo Pulang jiwo mempunyai anak bernama BRM Pangeran Kusumo Yudo, BRM Pangeran Kusumo Yudo punya anak  yang namanya Nyi Ageng Reksho.
Dapat dikatakan bahwa Nyi Ageng Rekso Yudo merupakan keturunan keempat dari panembahan senopati atau Danang Sutawijaya yang merupakan pendiri Kerajaan Mataram. Sementara masyarakat Desa Gabugan merupakan keturunan ke 8 - 9 dari Nyi Ageng Reksoudo, dan masih keturunan dari Panembahan Senopati dan dapat dikatakan juga  masyarakat Desa Gabugan merupakan orang yang mempunyai darah biru, walaupun tidak semua masyarakat Desa Gabugan merupakan penetap asli, namun sebagian besar masyarakat Desa Gabugan didominasi oleh penetap asli, salah satunya Dukuh dari Desa Gabugan itu sendiri.
Sejarah Perubahan Desa Gabugan Menjadi Desa Wisata
          Desa Wisata adalah  komunitas atau masyarakat yang terdiri dari para penduduk suatu wilayah terbatas yang bisa saling berinteraksi secara langsung dibawah sebuah pengelolaan dan memiliki kepedulian serta kesadaran untuk berperan bersama sesuai ketrampilan dan kemampuan masing-masing memberdayakan potensi secara kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta terwujudnya Sapta Pesona sehingga tercapai peningkatan pembangunan daerah melalui kepariwisataan dan memanfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat di wilayah itu.
          Desa Wisata merupakan kelompok swadaya dan swakarsa masyarakat yang dalam aktivitas sosialnya berupaya untuk meningkatkan pemahaman kepariwisataan, mewadahi peran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan di wilayahnya, meningkatkan nilai kepariwisataan serta memberdayakannya bagi kesejahteraan masyarakat, keikut sertaan dalam mensukseskan pembangunan kepariwisataan.
          Desa Wisata dibentuk  untuk memberdayakan masyarakat agar dapat berperan sebagai pelaku langsung dalam upaya meningkatkan kesiapan dan kepedulian dalam menyikapi potensi pariwisata atau lokasi daya tarik wisata di wilayah mereka agar dapat berperan sebagai tuan rumah yang baik bagi para wisatawan yang berkunjung, serta memiliki kesadaran akan peluang dan kesiapan menangkap manfaat yang dapat dikembangkan dari kegiatan pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat .
          Tujuan dari pembentukan Desa Wisata untuk meningkatkan posisi dan peran masyarakat sebagai subjek atau pelaku penting dalam pembangunan kepariwisataan, serta dapat bersinergi dan bermitra dengan pemangku kepentingan terkait dalam meningkatkan kualitas perkembangan kepariwisataan di daerah, membangun dan menumbuhkan sikap dan dukungan positif masyarakat sebagai tuan rumah melalui perwujudan nilai-nilai Sapta Pesona bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di daerah dan manfaatnya bagi pembangunan daerah maupun kesejahteraan masyarakat dan memperkenalkan, melestarikan dan memanfaatkan potensi daya tarik wisata yang ada di masing-masing daerah.
          Fungsi Desa Wisata merupakan sebagai wadah langsung bagi masyarakat akan kesadaran adanya potensi Wisata dan terciptanya Sapta Pesona di lingkungan wilayah di destinasi wisata dan sebagai unsur kemitran baik bagi Pemerintah propinsi maupun pemerintah daerah (kabupaten/kota) dalam upaya perwujudan dan pengembangan kepariwisataan di daerah.[2]
          Desa Wisata Gabugan adalah sebuah desa wisata yang terletak di Dusun Gabugan, Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta yang merupakan sebuah desa yang terkenal dengan perkebunan salak pondohnya. Sebelum menjadi Desa Wisata, Desa Gabugan mendapatkan subsidi dari pemerintah untuk proyek perumahan, tetapi tidak semua masyarakat Desa Gabugan mendapatkan subsidi untuk proyek ini. Tahun 1976 Desa Gabugan mulai melebarkan jalan dengan gotong royong karena pelebaran jalan program dari pemerintah, lalu pegawai pemerintah seperti ABRI membantu masyarakat Desa Gabugan. Yang mencetuskan untuk didirikannya Desa Wisata adalah Pak Iskandar selaku warga Desa Gabugan. Pak Iskandar mensosialisasikan kepada masyarakat terkait tentang mengubah Desa Gabugan menjadi Desa Wisata. Setelah disosialisaikan, masyarakat setuju untuk mengubah Desa Gabugan menjadi Desa Wisata. Pengelolaan pada masa awal terbentuknya Desa Gabugan masih dibawah organisasi kepemudaan yaitu Karang Taruna. Seiring berjalannya waktu terbentuklah pengelola Desa Wisata Gabugan.
           Desa Wisata Gabugan cocok menjadi lahan perkebunan salak terutama salak gading dan salak pondoh. Salak gading juga merupakan pendukung awal terbentuknya Desa Wisata Gabugan. Desa Wisata Gabugan yang berada pada ketinggian ±450-600 diatas permukaan laut menjadikan phon salak tumbuh subur didaerah tersebut. Perkebunan salak pondoh ini menjadi daya tarik sekaligus potensi wisata yang dimiliki oleh Desa Wisata Gabugan karena umur pohon salak pondoh tidak akan mati jika tidak terjangkit penyakit. Selain dari perkebunan salak pondoh, sebagian wilayah desa ini juga dimanfaatkan untuk areal perikanan. Dengan nuansa pedesaaan yang asri dan hawa yang sejuk maka dusun ini sangat menarik di kunjungi untuk belajar tentang perkebunan salak ataupun budidaya ikan.
          Di samping potensi wisata yang berupa perkebunan salak pondoh dan perikanan, desa wisata Gabugan memiliki berbagai jenis kesenian dan budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat sekitar. Kesenian dan budaya tersebut diantaranya adalah jathilan, karawitan, wayang kulit serta ketoprak yang dapat dinikmati oleh para wisatawan pada waktu-waktu tertentu. Makanan khas dari desa ini juga cukup menarik untuk dijadikan oleh-oleh para wisatawan. Makanan khas tersebut diantaranya terdapat Salak, dodol salak, megono, dan jenang salak.
          Bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan dari Desa Wisata Gabungan ini terdapat paket wisata yang disediakan yang meliputi trekking (susur sungai), wisata kebun, belajar bertani, memancing serta belajar kesenian tradisonal. Apabila wisatawan ingin menginap, juga tersedia homestay dengan kapasitas 130 orang dengan harga yang relatif terjangkau. Selain itu terdapat juga tempat pertemuan dengan kapasitas sekitar 100 orang.
          Desa Wisata Gabugan memiliki akses yang cukup mudah dan didukung oleh areal parkir yang luas yang dapat menampung kendaraan mobil 50 buah, motor 200 buah, bus 4 buah. Terdapat juga pusat jajanan untuk para wisatawan membeli oleh-oleh.[3]
          Salah satu unggulan Desa Wisata Gabugan yaitu perkebunan salak namun jangan salah, salak yang ada disini berbeda dengan salak yang ada di desa wisata lainnya. Disini kami mempunyai varietas asli Desa Wisata Gabugan yang kami budidayakan yaitu Salak Gading merupakan salak yang warnanya kuning keemasan yang kemudian kami jadikan sebagai sarana belajar bagi para wisatawan untuk lebih mengenal berbagai jenis salak dan cara budi dayanya.[4]
          Pengunjung yang datang ke desa ini akan sangat menikmanti suasana yang ada selain bisa menikmati suasana alamnya yang indah dan nyaman, udara disini juga sangat sejuk dan pemandangan masih terlihat asri, selain bisa merasakan dan mengenal jenis salak dan cara budi dayanya di dalam Desa Gabugan kita juga dapat bisa beraktivitas yaitu pertanian, Kegiatan ini mengajak wisatawan untuk langsung menikmati alam dan mempelajari cara bercocok tanam mulai dari pengolahan lahan sampai pemetikan hasil pertanian. dengan berbagai jenis tanaman yang di tanam oleh petani desa wisata gabugan, pengunjung yang berkunjung disini akan di berikan keleluasaan untuk memilih atau ingin mengetahui mana tanaman yang pas untuk bercocok tanam.
          Setelah dari tadi tanaman sekarang kita menuju salah satu aktivitas unggulan di Desa Wisata Gabugan. Peternakan disini sudah sangat maju sehingga banyak yang mengambil percontohan di Desa Wisata Gabugan ini. Sangat cocok menjadi aktivitas juga menjadi salah satu tambahan wawasan bagaimana mengenalkan jiwa wirausaha dengan beternak unggas dan puyuh. Mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pemasaran dan pemeliharaan limbah ternak salah satunya adalah peternakan puyuh yang dimiliki oleh Bapak Suwarno yang sudah mempunyai 1500 Burung Puyuh.
          Lalu Desa Gabugan sebagai desa Agro wisata tidak hanya menyediakan pertanian, peternakan tetapi ada juga perikanan Desa wisata gabugan dengan kekayaan alam nya sayang jika melewatkan Kegiatan perikanan, kegiatan ini sangat pas bagi wisawan yang jenuh dengan rutinitas kegiatan sehari-hari. Wisatawan akan memancing, menangkap ikan,dan dapat menikmati hasil tangkapan ikan. di desa wisata gabugan ini terdapat beberapa tambak yang dapat digunakan untuk kegiatan tangkap ikan ini.
Selain itu, ada juga aktivitas para warga yang bisa di ajarkan kepada para tamu yaitu keterampilan tangan berbagai keterampilan tangan seperti membatik dan pengolahan barang bekas. Pengunjung dapat berinteraksi langsung untuk mempelajari berbagai kegiatan tersebut. Ada juga Budaya dan Tradisi dari Masyarakat Gabugan masih sangat menjunjung tinggi adat tradisi para leluhurnya dengan berbagai kegiatan yang masih tetap dilestarikan sehingga para tamu yang berkunjung ke Desa Gabugan bisa belajar Budaya yang baru dan mengenal budaya-budaya yang ada antara lain: Merti bumi, Kenduri (hari-hari besar), Nyadran (bulan ruwah), Wiwit (memulai panen), Tahlil.
          Desa gabugan menjadi Desa Agro Wisata karena mempunyai modal yaitu seperti yang sudah dijelaskan diatas seperti pertanian, perikanan. Perkebunana salak, kesenian, keterampilan tangan, budaya dan tradisi yang bisa dipelajari.

Kondisi Desa Gabugan Setelah Menjadi Desa Wisata
Awal mula desa Gabugan menjadi desa wisata dimulai dari usulan Bapak Iskandar selaku warga sekitar. Selaku ketua kelompok tani Bapak Iskandar melihat adanya potensi di desa Gabugan, terdapat perkebunan salak yang telah ditekuni warga sejak dahulu yang mampu menarik wisatawan sehingga masyarakat desa Gabugan termotivasi untuk menjadikan desa Gabugan menjadi desa wisata.
Pada tahun 2002/2003 Dinas Pariwisata mengundang perwakilan dari masyarakat desa Gabugan untuk mengikuti pelatihan pemanduan pariwisata yang diwakili oleh Pak Goro selaku masyarakat Gabugan. Sehingga dengan adanya palatihan tersebut Pak Goro dapat membina masyarakat untuk menjadikan desa wisata.
Seiring berjalannnya waktu, pada tahun 2004 datang pengunjung sebanyak satu bis. Disitulah mulai munculnya kebingungan dari masyarakat dan pengunjung. Setelah itu masyarakat berunding untuk menyediakan penginapan untuk para pengunjung tersebut.  Akhirnya masyarakat memutuskan kesediaan warganya untuk menampung pengunjung dengan kondisi seadanya. Dari situlah masyarakat termotivssi untuk mengembangkan homestay dengan cara menyediakan satu kamar kosong setiap rumah warga dan pembenahan MCK yang dilengkapi dengan pintu.
Orang datang ke desa wisata tertarik untuk membeli oleh - oleh salak pondoh dan salak gading. Di desa Gabugan juga menyediakan kegiatan seperti menanam padi, memandikan kerbau, berternak unggas dan puyuh,  memancing dan menangkap ikan,  membatik, mengelola barang bekas dan juga tracking lintas desa. Pengunjung di desa Gabugan akan di ajak untuk sedikit berolahraga sekalian  menikmati suasana pedesaan dengan di pandu oleh penduduk lokal. Mata Pencaharian warga desa gabugan tidak hanya berkebun salak, tetapi juga ada yang bertani, bekerja sebagai buruh bahkan guru.
Di bidang Kesenian, terdapat kegiatan seperti karawitan, Jathilan, Pewayangan, dan Dolanan Anak. Di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, sudah sering terdengar kata rawit yang artinya halus, indah-indah. Begitu pula sudah terdengar kata ngrawit yang artinya suatu karya seni yang memiliki sifat-sifat yang halus, rumit, dan indah. Dari dua hal tersebut dapat diartikan bahwa seni karawitan berhubungan dengan sesuatu yang halus, dan rumit. Kehalusan dan kerumitan dalam seni karawitan tampak nyata dalam sajian gending maupun asesoris lainnya. Suhastjarja mendefinisikan seni karawitan adalah musik Indonesia yang berlaras non diatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya sudah menggunakan sistim notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, sifat pathet, dan aturan garap dalam bentuk instrumentalia, vokalis dan campuran, enak didengar untuk dirinya maupun orang lain.[5] Martopangrawit berpendapat, seni karawitan adalah sebagai seni suara vokal dan instrumen yang menggunakan nada-nada yang berlaras slendro dan pelog.[6] Ki Sindusawarna berpendapat, bahwa dari segi bahasa, karawitan berasal dari kata rawita, diberi awalan ka, dan akhiran an. Rawita artinya mengandung rawit, yang berarti halus, indah, rumit.[7] Jadi karawitan berarti kumpulan dari segala yang mengandung kehalusan dan keindahan. Soeroso mendefinisikan karawitan sebagai ungkapan jiwa manusia yang dilahirkan melalui nada-nada yang berlaras slendro dan pelog, diatur berirama, berbentuk, selaras, enak didengar dan enak dipandang, baik dalam vokal, instrumental, maupun garap campuran.
Sedangkan Pertunjukan Jathilan merupakan pertunjukan rakyat yang mengambarkan kelompok orang pria atau wanita sedang naik kuda dengan membawa senjata yang dipergunakan untuk latihan atau gladi perang para prajurit. Kuda yang dinaiki adalah kuda tiruan yang terbuat dari bambu, disebut jaran kepang atau kuda lumping. Jumlah penari Jathilan seluruhnya bisa mencapai 30-an orang, meliputi tokoh raja, prajurit, raksasa, Hanoman, penthul, dan barongan. Khusus penari utama yang membawa kuda lumping sekitar 10 orang atau 5 pasangan.[8] Bentuk pertunjukan Jathilan diekspresikan melalui gerak tari disertai dengan properti kuda kepang dengan diiringi oleh musik gamelan sederhana seperti bendhe, gong, dan kendhang. Jenis kesenian ini telah disebut-sebut oleh sarjana Belanda pecinta kebudayan Jawa yang berhasil mendeskripsikan seni pertunjukan rakyat Jawa tahun 1938, yaitu Th. Pigeaud bentuk-bentuk seni pertunjukan rakyat yang sangat lengkap, antara lain yang cukup banyak dibahas adalah seni kuda lumping. Jenis seni kudalumping banyak sekali banyak sekali dijumpai di daerah Jawa Tengah dan DIY. Selain Jathilan terdapat nama-nama lain seperti Incling di Kulonprogo, Ogleg di Bantul, Reog di Blora, Ebeg di Kebumen, Jaranann Pitikwalik di Magelang, Jelantur di Boyolali, dan sebagainya. Semua jenis kesenian kudalumping ini pada klimaks pertunjukannya terjadi in trance (ndadi, kesurupan). Pada peristiwa ini, para penari kemasukan roh, sehingga gerak tarinya menglami kekuatan yang luar biasa, sampai pada akhirnya penari tidak sadarkan diri, dan akhirnya terhuyung-huyung jatuh ke tanah dalam keadaan pingsan.[9] Pewayangan adalah wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber ilham dalam menggambar wujud tokoh dan cerita sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar karena sumber aslinya telah hilang di awalnya. Wayang adalah sebuah wiracarita yang pada intinya mengisahkan kepahlawanan para tokoh yang berwatak baik menghadapi dan menumpas tokoh yang berwatak jahat.[10] Selainitu, Wayang adalah sebuah mahakarya, salah satu karya agung dunia karena karya seni wayang mengandung berbagai nilai, mulai dari falsafah hidup, etika, spiritualitas, musik (gending-gending gamelan), hingga estetika bentuk seni rupa yang amat kompleks.[11] Dalam seni pewayangan ada banyak sekali kisah yang disajikan. Para penikmat seni pertunjukan wayang pasti tidak asing dengan kisah-kisah yang diambil dari karya sartra kuno, mulai dari Ramayanan sampai Mahabarata. Bukan hanya itu, setiap pagelaran wayang pasti juga ada pesan yang hendak disampaikan oleh seorang dalang yaitu pelaku utama pertunjukan.
Kemudian Dolanan berasal dari kata “dolan” yang artinya bermain-main.[12] Dalam hal ini, kata dolan yang dimaksudkan adalah dolan yang artinya main. Yang mendapat akhiran, sehingga menjadi dolanan. Kata dolanan sebagai bentuk kata kerja yaitu “bermain” (to play), sebagai kata benda yaitu “permainan” (play game) dan atau “mainan” (toy).[13] Menurut Lazarus dalam disertasi yang ditulis oleh Parwatri Wahjono permainan merupakan kegitan selingan yang memang diperlukan manusia untuk melakukan variasi kegiatan sehari-hari.[14]
Menurut Poerwadarminta (1939: 73) dolan ialah [15]:
1. Bermain
2. Sarana yang digunakan untuk bersenang-senang bagi anak-anak, dan
3. Permainan

Sehingga hal ini akan menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke desa Gabugan. Pengelolaan Desa Gabugan sebagai desa wisata dikelola oleh unit karang taruna. Dan sekarang dibentuk lembaga tersendiri untuk mengelola desa wisata.
Desa Gabugan sebagai desa wisata berjalan dengan lancar bahkan semakin membaik dengan pelatihan-pelatihan yang dilakukan secara berkala, seperti, pelatihan menyajikan makanan dengan benar, pelatihan pengelolaan sarana wisata, dll. Tetapi pada tahun 2006 terjadi gempa di Bantul, Gempa yang berskala 6,3 richter ini dibilang cukup besar karena banyak mengakibatkan rumah dan gedung roboh, seperti Mall Ambarukmo Plaza yang baru saja dibuka mengalami kerusakan parah, tidak hanya rumah dan gedung bahkan Candi Prambanan dan Candi Borobudor juga mengalami kerusakan parah. Selanjutnya rusaknya instalasi listrik dan komunikasi, serta mata air juga tercemar. Hal ini yang berdampak pada Desa Gabugan ini, padahal daya tarik pengunjung waktu itu adalah perkebunan dan pemandangan alam yang disuguhkan sehingga Desa Wisata Gabugan harus vakum hingga 2008. Selama vakum memang pendapatan desa berkurang akibat menurunnya pengunjung. Tetapi masyarakat desa Gabugan tetap berusaha membangun kembali Desa Wisata Gabugan dan memnafaatkan apa yang masih bisa dimanfaatkan.

Pada tahun 2008 mulai ada peningkatan jumlah pengunjung, salah satunya dari tour travel Wiyata yang membawa rombongan sebanyak enam bis. Keadaannya karena masih proses bangkit dari gempa bantul 2006 Desa Gabugan kewalahan untuk masalah tempat tinggal. Akhirnya masyarakat memutuskan untuk bekerja sama dengan dusun-dusun tetangga sehingga terdapat lima puluh rumah yang siap di tempati oleh rombongan wiyata. Waktu berlalu Desa Wisata Gabugan semakin terkenal di kalangan mahasiswa untuk kegiatan Kuliah Lapangan ataupun KKN. Sehingga dapat dikatakan Desa Wisata Gabugan mempunyai pengunjung tetap di setiap tahunnya, kampus saya yaitu UNJ. setiap tahun tidak jarang ada beberapa prodi yang datang ke Desa Gabugan untuk Kuliah Lapangan. Tidak hanya kampus saya tentunya, bahkan sekolah-sekolah menengah atas di Jakarta juga ada yang berkunjung di Desa Wisata Gabugan.

Pada tahun 2010 kembali terjadi bencana Alam yang menimpa Desa Wisata Gabugan, yaitu pada tanggal 5 November 2010. Pada Rabu tanggal 4 November petugas gabungan sudah mengumumkan untuk mengungsi pada hari Jumat pagi tetapi na’as erupsi terjadi lebih awal. sekitar pukul 00.00 WIB, terdengar gemuruh hebat dari puncak Merapi. Sejurus berikutnya, gempa akibat erupsi mengguncang wilayah sekitar gunung tersebut. Tak lebih dari lima menit setelah erupsi dan gempa, sirine tanda bahaya berbunyi bersahut-sahutan di antero Kecamatan Cangkringan yang berada hanya sekitar 15 kilometer dari pusat erupsi. Warga berlomba keluar rumah mengevakuasi diri. Tiba-tiba lampu penerangan padam. Kepanikan kian menggila. Hal ini  tentu juga dialami oleh warga desa Gabugan. Salah satunya yaitu Bapak Suyanto. Sebelum erupsi terjadi parah, anak bungsunya yang watu itu yang sebenarnya sedang sakit dan cenderung pendiam, mendadak memiliki firasat dan terus memaksa Pak Suyanto untuk pergi, akhirnya Pak Suayanto menuruti dan pasrah meninggalkan harta bendanya. Pak Suyanto dan keluarga pergi menggunakan kendaraan roda dua. Anehnya waktu itu terjadi keajaiban, anak Pak Suyanto yang sakit dan cenderung pendiam mendadak bisa menaiki kendaraan roda dua hingga membuat Pak Suyanto sempat takjub. Ketika sampai di jalan Pak Suyanto melihat lalu lalang orang yang kebingungan dan mencari tempat evakuasi terdekat. Beruntung Pak Suyanto memiliki kerabat di Bantul dan memutuskan untuk tinggal di rumah saudaranya bersama keluarganya menunggu keadaan desa gabugan aman serta kondusif. Setelah beberapa hari kemudian warga yang mengungsi kembali ke desanya untuk melihat situasi. Yang terjadi di desa gabugan banyak tanaman yang mati tertutupi oleh abu tetapi masih ada sebagian tanaman salak yang masih bisa dikembangkan kembali. Akhirnya warga desa gabugan kembali bersama-sama membangun desa ini dengan bergotong royong memnfaatkan apa yang masih bisa dimanfaatkan karena masih ada beberapa tanaman yang masih bisa dikembangkan sehingga menjadi bibit bagi calon-calon tanaman berikut. Hingga sekarang terdapat kemajuan dari desa Gabugan seperti tersedianya homestay yang memadai untuk para tamu serta sajian untuk para tamu. Banyak tanaman yang sudah tumbuh subur serta aktivitas lainnya yang sudah berjalan dengan normal dan sangat baik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eksistensi Lenong Betawi di Era Modern

Lenong merupakan teater rakyat Tradisional Betawi berisi pertunjukan silat, bodoran atau lawak dan menggunakan musik Gambang Kromong dalam setiap pertunjukan. Pertunjukan Lenong mempunyai dua jenis cerita, pertama cerita yang mengisahkan seribu satu malam dalam kerajaan disebut dengan Lenong Dines. Sedangkan Lenong yang mengisahkan cerita tentang para jawoan Betawi disebut dengan Lenong Preman. Dalam pertunjukannya para pemain laki-laki disebut dengan Panjak sedangkan para pemain wanita disebut Ronggeng. Awalnya Lenong tumbuh secara tradisional dengan menampilkan cerita jagoan Betawi seperti si Pitung, si Jampang dan Nyai Dasima. Pertunjukannya dilakukan di panggung sederhana, dengan fungsi untuk memeriahkan acara keluarga. Namun seiring perkembangan zaman dan banyaknya urbanisasi membuat tanah lapang mulai berkurang. Hal tersebut membuat Lenong tampil di gedung pertunjukan seperti Taman Ismail Marzuki. Selain itu sikap Gubernur Ali Sadikin yang menggalakan Titik Balik Kebetawian mem...

How To Make Highlight Cover

Fitur Highlight ini merupakan fitur yang berisikan   moment-moment   yang sebelumnya pernah kita   share   di instagram   stories   namun menghilang begitu saja setelah 24 jam. Disini kamu bisa memunculkan kembali pada akun instagram dan tidak di batasi waktu selama 24 jam, namun bisa selamanya ada di akun instagram kamu dan   followers   kamu juga bisa melihat   stories   tersebut dengan mengunjungi akun instagram kamu. Highlight yang ditampilkan di akun instagram kamu akan lebih bagus/artistik dengan memberikan sentuhan   cover   kategori di setiap   stories nya. Berikut cara membuat Highlight Cover Stories di Instagram. Banyak banget caranya bikin cover highlight, salah satunya di canva, dan picsart. Langkah-langkah 1. Siapkan gambar seukuran instagram stories. 2. Kamu bisa pilih kreasi background sesuka kamu dengan liat referensinya di google 3. Download icon-icon yang melambangkan isi stories...

Wisata Belajar di Museum Satria Mandala

Museum Satria Mandala ini dulunya dikenal sebagai Wisma Yoso, yaitu tempat kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno dan tempat Bung Karno disemayamkan sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Di Museum ini tersimpan berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan TNI dan tahun 1945 sampai sekarang, seperti berbagai senjata berat maupun ringan, peluru, atribut ketentaraan, panji-panji, dan lambang-lambang di lingkungan TNI, kendaraan perang seperti tank dan panser, dan juga pesawat terbang. Pada tanggal 15 November 1971 kediaman Ibu Ratna Sari Dewi Soekarno dibuka dan direnovasi menjadi Museum, dengan luas tanah kurang lebih sekitar 5,6 hektar. Setahun kemudian pada 5 Oktober 1972, Museum ini diresmikan oleh Bapak Soeharto. Arti dari Satria Mandala itu sendiri adalah tempat berkumpulnya para ksatria atau pahlawan, adapun yang terdapat dalam Museum ini tidak semuanya asli ada pula replika. Ruangan yang pertama yaitu panji-panji sebagai jantung dari Museum, dahulunya sebagai tempat...